Museum Perkembangan Islam di Jawa Tengah

Setelah beberapa minggu tidak bisa berbagi Informasi tentang Kota ku tercinta semarang, yang dikarenakan kesibukan mengurus Server Pulsa All Operator yang ingin melebarkan sayapnya dari area Banyumanik Semarang dan mencoba membuka server lagi di Semarang area Bawah. heheheh malah cerita kesibukan pribadi.

Oke langsung saja, udah kangen tuk berbagi tentang Semarang.

Kali ini Media Semarang akan berbagi tentang Info Museum Perkembangan Islam di Jawa Tengah.

Bagi anda yang berkunjung ke kota Semarang, bagi yang beragama Islam Khususnya jangan sampai melewatkan untuk mengunjungi Museum Perkembangan Islam di Jawa Tengah karena akan menambah wawasan anda tentang penyebaran agama Islam di Jawa tengah pada umumnya dan di kota Semarang pada Khususnya.

Tiyuuussss dimana letak keberadaan Museum Perkembangan Islam Jawa Tengah ?
heheheh sediket Lebay, Alay...

Museum Perkembangan Islam di Jawa tengah terletak satu komplek dengan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) tepatnya di Menara Al-Husna lantai 2 dan 3. 

Di dalam Menara Al-Husna selain anda bisa mengunjungi Museum Perkembangan Islam Jawa tengah, para pengunjung juga bisa  melihat pemandangan kota semarang dan kapal-kapal yang sedang berlalu lalang dipelabuhan Tanjung Emas dengan menggunakan Teropong yang sudah di sediakan.

Museum ini dibangun dengan tujuan melestarikan aset budaya bangsa yang bernuansa keislaman berupa artefak, naskah, serta tradisi-tradisi lainnya ditempuh melalui beberapa tahap survey, pengadaan, dan display koleksi. Untuk mengumpulkan koleksi dilakukan dengan survey ke Kabupaten/Kota se Jawa Tengah ditambah dengan sumber-sumber dari luar Jawa Tengah yang dianggap perlu. Di dalam perkembangannya, pada tahap awal tim baru mampu mengumpulkan koleksi sekitar 200 buah yang terdiri dari artefak, naskah kuno, benda-benda tradisi keislaman, serta duplikat benda-benda yang tidak mungkin dipindahkan dari situs aslinya. Hal ini disebabkan kaitannya dengan kultur di dalam masyarakat yang masih mengeramatkan keberadaan benda-benda warisan budaya tersebut.

Koleksi benda-benda bersejarah pada museum ditata berdasarkan alur cerita yang menggambarkan sejarah perkembangan Islam di Jawa Tengah yang mencakup 5 periode. Pertama Raden Patah sebagai peletak dasar Kerajaan Islam Demak menandai perkembangan awal Islam di Jawa Tengah. Kedua pesantren memegang peranan penting sebagai tempat melanjutkan proses Islamisasi di Jawa Tengah. Ketiga perkembangan Islam di wilayah pedalaman Jawa Tengah menghasilkan dialog Islam dengan budaya lokal. Keempat memasuki era kolonialisme dunia pesantren mengisolir diri dari kekuasaan penjajah dengan sikap non kooperatif. Dan yang kelima dunia modern terdapat kebutuhan untuk meningkatkan fasilitas peribadatan yang representatif antara lain pengembangan Masjid Agung Jawa Tengah.

Sesuai alur cerita tadi, koleksi ditampilkan pada dua ruangan dan dibedakan menjadi 5 jenis yaitu artefak/realita, replika, naskah, tradisi, dan foto-foto pendukung.

Lantai 2

Koleksi-koleksi yang ditampilkan bercerita tentang awal perkembangan Islam di Jawa Tengah sampai dengan terjadinya dialog antara Islam dengan budaya lokal. Pelabuhan di kawasan pesisir utara Jawa Tengah adalah tempat kali pertama berinteraksinya pedagang muslim dari Gujarat, Persia, dan China dengan penduduk lokal. Berbagai macam komoditas seperti sutera dan keramik dibawa oleh para pedagang asing masuk ke wilayah Nusantara. Sambil berdagang mereka menyebarkan ajaran Islam.

Salah satu benda koleksi yang dipamerkan pada lantai 2 ini adalah Duplikat Lawang Bledheg. Duplikat daun pintu ini bermotif Bledheg Sinengker yang diyakini sebagai karya Ki Ageng Sela. Lawang Bledheg ini dibuat pada masa pemerintahan Sultan Trenggono. Benda asli Lawang Bledheg berada di Masjid Agung Demak.





Pesantren sebagai salah satu pusat untuk menimba ilmu agama banyak tersebar di wilayah Jawa Tengah. Hal ini memberi andil besar dalam perkembangan Islam di Jawa Tengah. Menuntut ilmu agama pada awal abad xx menjadi cikal bakal berdirinya pondok pesantren.


Adanya larangan dalam ajaran Islam untuk menggambarkan makhluk hidup secara alami menyebabkan terjadinya peralihan pola di dalam tradisi seni ukir dari gambar alami ke bentuk penyamaran stilistik yang berbentuk ornamen flora berbentuk sulur, akar, daun, dan ranting yang merambat.




Wayang sebagai salah satu sarana pengajaran Agama Islam juga terdapat di sini. Selain wayang kulit juga ada wayang golek menak. Wayang golek ini dirancang oleh R. Ng. Yasadipura I yang digunakan sebagai salah satu media siar Islam. Wayang ini mengisahkan perjuangan Amir Hamzah memerangi kaum kafir. Tokoh Jayengrana merupakan penggambaran Hamzah paman nabi Muhammad S.A.W.




Lantai 3

Pada lantai 3 menampilkan koleksi-koleksi budaya pesantren sampai dengan berdirinya Masjid Agung Jawa Tengah. Koleksi pada lantai 3 antara lain Qur’an yang disadur dengan aksara Jawa pada tahun 1835 oleh Agus Ngarpah seorang abdi dalem Kraton Surakarta. Qur’an ini terdiri dari 3 jilid yang disadur selama 70 tahun (1835 – 1905).


Koleksi yang lain adalah surat ditulis dengan huruf Arab pegon oleh Kyai Rifai pada saat berada di pengungsian. Surat ini ditujukan kepada santrinya. Koleksi surat ini diperoleh dari ahli waris Kyai Rifai di Kabupaten Batang, Jawa Tengah.


Baik pada lantai 2 dan lantai 3 Menara Al-Husna "Museum Perkembangan Islam di Jawa Tengah" terdapat informasi yg dapat diperoleh oleh pengunjung hanya dengan menyentuh layar komputer. Pengunjung pun dapat memilih sendiri informasi yang diinginkan. Selain itu juga terdapat ruang muli media, dimana pengunjung bisa menyaksikan film dokumenter tentang Perkembangan Islam di Jawa Tengah.

Untuk menambah wawasan tetang perkembangan Islam di Jawa Tengah dan melihat kota Semarang dari ketinggian 99 meter menara Al-Husna, para pengunjung hanya dikenakan biaya 5.000,- per orang (tiket masuk)

Jadwal Museum Perkembangan Islam di Jawa Tengah :
Buka
Senin-Minggu   >>> Jam : 08.00 s/d 21.00 WIB

Related Posts:

Klik Iklan