Museum Rekor Indonesia "Muri"

Jika di dunia memiliki dan mengenal Guiness Book of Records sebagai tempat mencatakan rekor di dunia, maka di Indonesia negara tercinta kita ini juga memiliki tempat sendiri untuk mencatatkan rekor yang telah dibuat olah anak bangsa yaitu Museum Rekor Indonesia "MURI".

Museum yang diresmikan pada 27 Januari 1990 ini bernama Museum Rekor Dunia Indonesia atau lebih sering dikenal dengan nama Museum Rekor Indonesia (MURI). Didirikan atas inisiatif Jaya Suprana, generasi ketiga pendiri PT Jamu Jago, keberadaan MURI bertujuan untuk menggugah inspirasi dan semangat masyarakat Indonesia untuk selalu berjuang menghasilkan karya yang terbaik sesuai dengan keahliannya masing-masing. Museum Rekor Indonesia terletak satu kompleks dengan pabrik Jamu Jago, sehingga banyak orang menyebut museum ini dengan nama Museum Jamu Jago.
 
Jajaran patung ayam jago hitam dengan jengger merah berdiri di balik pagar tanaman menyambut kedatangan ku ketika penasaran ingin melihat secara langsung Museum Jamu Jago atau Museum Rekor Indonesia "MURI" yang terletak di Kecamatan Banyumanik tepatnya di jalan Setiabudi no. 179 Srondol kurang lebih 12 Km dari Tugu muda.. Setelah memarkir kendaraan dan lapor kepada petugas jaga, Aku pun bergegas berjalan menuju Museum Rekor Indonesia yang terletak di lantai dua. Tak ada tiket yang perlu dibayarkan untuk masuk ke museum ini. Saat memasuki museum Jamu Jago Alias Museum Rekor Indonesia Bin MURI ini (heheheheeee panjang amatb namanya) Aku sempat terkejut dengan keadaannya yang sangat bersih dan terang, berbeda jauh dengan image museum yang cenderung kotor dan suram. Jendela kaca yang ada dibiarkan terbuka sehingga mengalirkan udara dan cahaya. Kesan pengap dan gelap langsung lenyap, berganti dengan wangi khas jamu yang sedang diolah di pabrik.

Setelah mengisi buku tamu, Aku pun mulai mengeksplorasi isi museum. Pandangan  langsung ttertujuj pada lipstik raksasa setingi 3 meter yang memecahkan rekor sebagai lipstik terbesar di Indonesia. Di sebelah lipstik terdapat lukisan wajah Ciputra berukuran 2,44 m x 1,87 m. Yang menarik dari lukisan ini adalah keseluruhannya terbuat dari paku yang jika ditimbang beratnya mencapai 1,5 kuintal. Satu lagi yang menyedot perhatian yaitu patung Budha terkecil yang terbuat dari rangkaian korek api. Mengingat kapasitas ruangan yang tidak begitu besar untuk menyimpan aneka benda, rekor-rekor yang sudah dipecahkan disimpan dalam bentuk dokumentasi kegiatan.

Selain menyimpan dokumentasi rekor di Indonesia, museum ini juga memiliki koleksi aneka benda yang berhubungan dengan PT Jamu Jago yang merupakan perusahaan jamu pertama di Indonesia. Koleksi tersebut berupa alat-alat yang pertama kali digunakan untuk memproduksi jamu, sampel jamu yang diproduksi pada tahun-tahun awal pendirian, maket alur produksi jamu, simplisia jamu, piagam penghargaan dan beragam koleksi lain. Usai melihat semua koleksi aku pun beranjak menuju mini bar tempat menjual aneka jamu. Jika pemberitahuan jadwal kunjungan sudah dilakukan sejak jauh-jauh hari, Anda bisa mendapatkan segelas jamu Buyung Upik atau Selasi Kunir Asem yang menyegarkan secara cuma-cuma.

Jam buka:
Senin - Jumat, pk 09:00 - 14:00 WIB (tanggal merah tutup)
Bagi pelajar maupun wisatawan yang akan berkunjung secara berombongan diharapkan memberitahukan jadwal kunjungan paling lambat dua minggu sebelum kunjungan dilaksanakan.

Related Posts:

Klik Iklan